SDIT AN-NAJIYAH TUBAN

SDIT AN-NAJIYAH TUBAN
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Mei 2015

Doa Menanti Ramadhan


~~*Alhamdulillah*~~
Ramadhan sudah semakin dekat.
Semoga kita semua diberi kesempatan untuk menikmati manis dan indahnya keberkahan bulan Ramadhan. Aamiin.. smile emotikon
"Allahumma ballighna Ramadhan"

YA ALLAH PERTEMUKANLAH KAMI DENGAN RAMADHAN. AAMIIN..

Senin, 16 Maret 2015

Tips Mendidik Anak yang SHOLIH

Salah satu amal yang tidak pernah terputus pahalanya sekalipun kita telah meninggalkan dunia ini adalah “anak yang sholeh/sholehah”. Doa anak yang sholeh juga merupakan salah satu doa yang insya Allah dikabulkan oleh-Nya. Bagaimana cara untuk mendidik anak kita menjadi anak yang sholeh? Didiklah ia dengan cara yang islami, seperti beberapa tips berikut ini:


  1. Biasakan anak kita bangun pada waktu shubuh. Contoh: sejak usia dini, ajaklah ia sholat shubuh bersama atau berjamaah di mesjid.
  2. Berikan ia lingkungan pergaulan dan pendidikan yang islami. Contoh: sejak dini ikutkan anak kita dalam TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), mengikuti kursus di mesjid, dsb.
  3. Berikan teladan, bukan hanya perintah yang egois. Contoh: jangan hanya menyuruh ia belajar mengaji atau sholat, namun kita sendiri tidak melakukannya.
  4. Ajak anak kita untuk mengunjungi mesijd secara rutin. Contoh: secara rutin, ajaklah anak kita untuk berjamaah di mesjid.
  5. Perkenalkan batasan aurat sejak dini. Contoh: jika sejak dini kita biasakan anak perempuan kita menggunakan jilbab, maka saat dewasa ia justru akan merasa tidak nyaman jika memperlihatkan auratnya.
  6. Biasakan anak kita untuk selalu membawa perlengkapan sholat, terutama untuk anak perempuan.
  7. Minimalkan anak kita dalam mendengar musik-musik non islami. Sebaliknya, maksimalkan anak kita untuk mendengar ayat-ayat Al-Qur’an atau nasyid.
  8. Buatlah jadwal menonton TV dan dampingi anak ketika menonton. Jauhkan anak dari tontonan yang tidak mengandung unsur pendidikan, seperti: sinetron, film horor, film cengeng, dan lain-lain.
  9. Ajarkan nilai-nilai Islam secara langsung. Sampaikan nilai-nilai Islam yang kita kuasai kepada anak kita. Akan lebih baik jika dalam bentuk cerita yang menarik.
  10. Jadilah sahabat setia baginya. Jadikan ia nyaman untuk menjadikan kita tempat curhat yang utama sehingga kita akan selalu mengetahui masalahnya.
  11. Ciptakan suasana hangat dan harmonis dalam keluarga. Jika keluarga tidak lagi terasa hangat baginya, anak akan mencari pelampiasan di tempat lain.
  12. Lakukan semua tips di atas dengan bijak, sabar dan konsisten. Jangan pernah menggunakan kekerasan dan hindari sikap emosional yang dapat membuatnya sakit hati.
Semoga tips-tips ini dapat membantu kita menjadi orang tua yang baik bagi anak kita dan mengajaknya bersama-sama masuk ke dalam surga-Nya yang kekal. Amin.
FP:  https://www.facebook.com/sditannajiyah

Minggu, 11 Januari 2015

BUKAN SEKEDAR RUTINITAS



Perhatikan Niat dalam Ibadah


Meraih Ikhlas adalah dengan beramal hanya mengharapkan ridha Allah dan kehidupan akhirat, tidak tercampuri keinginan untuk mencari pujian manusia. Sebagian orang tekun berbuat baik, namun sayang ada yang keliru dalam niatnya. Ia berbuat baik, namun tujuannya supaya orang-orang menyebutnya orang baik “oh orang ini sering haji, orang ini sering umrah, orang ini gemar sedekah, orang ini rajin membantu tetangga, orang ini rajin shalat malam dst.”
Allah ta’ala berfirman,
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al-Bayyinah: 5).
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Tidaklah Ku-ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-dzariyat: 57).
Berangkat dari ayat ini, seorang yang telah mengetahui bahwa tujuan ia diciptakan adalah untuk ibadah, maka seyogyanya ia menjadikan setiap gerak-geriknya adalah ibadah. Orang yang cerdas, ia ubah kebiasaannya menjadi bernilai pahala. Adapun orang yang lalai, amalan ibadahnya hanya bernilai kebiasaan yang tidak mendatangkan pahala. Letak perbedaan antara kedua orang ini adalah pada niat. Yang satu amalan mubahnya bernilai pahala, karena ia niatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang kedua, amalan ibadahnya hanya bernilai kebiasaan, karena tidak adanya niat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Disinilah pentingnya menghadirkan ikhlas dalam setiap amal. Seperti yang diungkapkan oleh para ulama,
الكيس جعل عاداته عبادة، والغافل جعل عباداته عادة
“Orang yang pandai, dia jadikan amalan mubahnya menjadi ibadah. Adapun orang yang lalai, ia jadikan amalan ibadahnya menjadi sebatas kebiasaan (‘adaat).”
Orang yang pandai, saat makan ia niatkan agar tubuhnya kuat untuk beribadah. Sehingga aktivitas makan dan minumnya menjadi berpahala. Saat mengenakan pakaian, ia niatkan untuk menutupi aurat badannya, sebagai bentuk pengamalan terhadap perintah Allah ta’ala,
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًاۖ
Hai Anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian (tambahan) sebagai penghias untukmu” (QS. Al-A’raf: 26).
Sehingga perbuatan mengenakan pakaiannya tersebut, menjadi bernilai ibadah; yang mendatangkan pahala.
Rupanya tak cukup berhenti di situ, ternyata aktivitas berpakaian tersebut juga mengingatkannya akan pakaian yang lebih penting. Kalau pakaian yang ia kenakan hanya berfungsi sebagai penutup aurat badan, sekarang ia ingat, ada pakaian yang lebih penting dari pakaian badan. Yaitu pakaian takwa, yang menjadi perisai ruh dan hati, dari aurat-aurat dosa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat” (QS. Al-A’raf: 26).

Mengenai makna “pakaian takwa” (libaasut taqwa)

Mari kita simak penjelasan beberapa ahli tafsir berikut. Qatadah dan As-Suddi menjelaskan, “Pakaian takwa maksudnya adalah iman.” Al-Hasan menerangkan, “Maksudnya adalah rasa malu, karena malu bisa melahirkan ketakwaan”. Menurut Ibnu Abbas,” Pakaian takwa maknanya adalah amal shalih.” Urwah bin Zubair menerangkan, “Pakaian takwa maksudnya adalah rasa takut kepada Allah (khasy-yatullah) (Lihat: Tafsir Al-BaghowiMa’aalim At-Tanziil, 98/2. Cet. Daar Taibah).
Intinya, penjelasan para ulama tafsir mengenai makna “pakaian takwa” di atas mengerucut pada makna pelindung dan penghias bagi hati dan ruh yang melindunginya dari aurat-aurat batin, yaitu dosa. Adapun perbedaan penafsiran, itu hanya sebatas ikhitilaf tanawwu‘ (perbedaan variatif) saja.
Demikianlah kebaikan, ia memancing datangnya kebaikan-kebaikan lainnya. Persis sepeti yang dikatakan oleh Urwah bin Zubair radhiyallahu’anhu,
إذا رأيت الرجل يعمل الحسنة، فاعلم أن لها عنده أخوات، وإذا رأيته يعمل السيئة، فاعلم أن لها عنده أخوات، فإن الحسنات تدل على أختها، وإن السيئة تدل على أختها
“Jika kamu melihat seorang yang berbuat baik, ketahuilah bahwa perbuatan baik tersebut memiliki saudara (kebaikan yang lain). Bila kamu melihat seorang yang berbuat dosa, ketahuilah bahwa dosa itu memiliki saudara (dosa lain). Karena sesungguhnya perbuatan yang baik, akan memicu datangnya kebaikan lainnya. Dan perbuatan dosa, akan memancing datangnya dosa lainnya” (Lihat: Shifatus Shofwah 2/441).
Adapun orang-orang yang lalai (lalai dari niat ikhlas), amalan ibadahnya hanya bernilai kebiasaan yang tidak lagi mendatangkan pahala. Ia sudah biasa kalau adzan berkumandang pergi ke masjid. Ia biasa kalau tiba bulan ramadhan ia berpuasa. Ia juga biasa bila telah genap haul (genap satu tahun) dan mencapai nishab (kadar wajib dikeluarkan zakat dari suatu harta) ia membayar zakat. Ia juga biasa bila tiba hari jumat mandi untuk shalat jumat. Namun, semua itu hanya dianggap sebagai rutinitas sehari-hari yang hasilnya didapat sesuai dengan apa yang dia niatkan, menjadi tidak berpahala karena tidak disertai niat dalam hati untuk menjalankan ibadah.
Contoh lain ketika berwudu, seperti biasa sebelum melakukan shalat kita semua berwudhu. Akan tetapi, saat berwudhu apakah kita sadar untuk menghadirkan niat, bahwa saat itu kita sedang menjadi hamba Allah yang beribdah kepada-Nya dengan berwudhu sebagai bentuk kepatuhan terhadap perintah Allah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki” (QS. Al-Maidah: 4).
Apakah kita menyengaja untuk menaati perintah Allah ini saat berwudhu? Atau sebatas mejalankan rutinitas biasa seperti halnya rutinitas sehari-hari lainnya? Oleh karena itu, penting bagi seorang muslim untuk menghadirkan niat dalam setiap aktivitasnya, terlebih untuk amalan-amalan ibadah agar amalannya menjadi amalan yang ikhlas dan berpahala.
Di samping menghadirkan niat ikhlas untuk beribadah kepada Allah saat beramal, hadirkan pula niat untuk ittiba‘ (mengikuti) tuntunan Rasulullahshallallahu alaihi wa sallam. Saat berwudhu misalnya, hadirkan suatu makna dalam hati Anda, bahwa saat itu seakan-akan Anda melihat Nabishallallahu’alaihiwasallam sedang berwudhu. Kemudian Anda menirukan tata cara wudhu beliau. Tentu seperti ini tidak bisa dilakukan, kecuali oleh orang yang telah mempelajari ilmu tentang cara berwudhu yang sesuai tuntunan Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Disinilah pentingnya ilmu sebelum beramal.
Dengan demikian, dalam satu ibadah ia telah meniatkan dua niat yang amat agung dan pokok, yaitu niat untuk ikhlas beribadah karena Allah, dan niat untuk mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, dua hal yang menjadi syarat untuk mendapatkan pahala dari amalan ibadah kita.
Jadi, para pembaca yang berbahagia, niat memiliki kedudukan yang tinggi dalam bab ibadah. Ia menjadi tolok ukur suatu amalan, apakah akan bernilai pahala, ataukah tidak. Begitu pula mutaaba’ah (mengikuti tuntunan Nabi), ia menjadi barometer kedua yang tak bisa dipisahkan. Untuk menjadi seorang yang sukses dalam beribadah, dua hal ini harus terpenuhi.
Semoga Allah membimbing kita semua, untuk senantiasa menghadirkan niat-niat ikhlas, dalam setiap aktivitas kita.
Ahmad Anshori
Wihdah 8, Universitas Islam Madinah, 15 Rabi’ul Awwal 1436 H

Jumat, 12 Desember 2014

Dinas Pendidikan JATIM tetap ingin lanjutkan K-13


JAKARTA -  Perdebatan penerapan Kurikulum 2013 di berbagai sekolah di Indonesia terus berlangsung. Tak sedikit sekolah-sekolah mengaku siap melanjutkan penerapan Kurikulum 2013.
Dinas Pendidikan Jawa Timur dan beberapa daerah lain sepakat ingin melanjutkan penerapan Kurikulum 2013. Malah beberapa daerah yang ingin melanjutkan Kurikulum 2013 sudah menyampaikannya kepada pemerintah pusat.
Menanggapi keinginan sekolah-sekolah yang tetap menginginkan berlakunya Kurikulum 2013, Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah Anies Baswedan mengatakan telah menerima beberapa surat terkait keinginan untuk melanjutkan penerapan kurikulum tersebut.
"Ya tidak apa-apa. Kita terima suratnya, tetapi keputusan kita tetap," ujar Anies kepada Tribunnews.com, di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Jumat (12/12/2014).
Penggagas program Indonesia Mengajar ini menegaskan, penerapan sekolah-sekolah yang tetap melanjutkan telah diatur melalui peraturan yang berlaku. Persoalan berlanjutnya penerapan Kurikulum 2013 atau kembalinya ke Kurikulum 2006 dinilai pada kesiapan murid dan guru.
"Ini bukan masalah cetak-mencetak. Jangan sampai masalah ini menjadi guru dikorbankan," ucap Anies.
Kepada wartawan, Anies mengatakan, kesiapan penerapan kurikulum disebabkan juga karena percetakan buku atau kesiapan anak-anak dan guru. Anies mengatakan, ia tidak mengubah mata pelajaran, tetapi lebih kepada ekosistem pendidikan.
"Anak-anak belum siap, guru belum siap, tetapi ada dorongan terkait cetak-mencetak. Jangan gara-gara ini, murid dan guru dikorbankan. Makanya, saya tegaskan dalam surat edaran untuk gubernur, wali kota, dan bupati semua kontrak ditunaikan," tegas mantan Rektor Universitas Paramadina itu.
Jumat lalu, Anies menginstruksikan sekolah yang belum menggunakan Kurikulum 2013 selama tiga semester untuk kembali ke Kurikulum 2006. Sementara itu, sekolah yang telah menjalankan selama tiga semester diminta tetap menggunakan kurikulum hingga menunggu hasil evaluasi. Anies berharap sekolah yang dijadikan bisa menjadi model dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 yang ideal.

Kurikulum 2013 resmi di hentikan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013. Sekolah-sekolah yang baru melaksanakan Kurikulum 2013 selama 1 semester tidak akan menerapkan Kurikulum 2013 lagi.

"Saya memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di sekolah-sekolah yang baru menetapkan satu semester yaitu sejak tahun pelajaran 2014/2015," kata Anies yang SekolahDasar.Net kutip dari Detik (05/12/2013).

Mendikbud menginstruksikan sekolah-sekolah itu supaya‎ kembali menggunakan Kurikulum 2006 mulai semester genap tahun pelajaran 2014/2015. Menurutnya berbagai konsep di Kurikulum 2013 sebenarnya telah diakomodasi dalam Kurikulum 2006 atau lebih dikenal Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). 

Sementara itu bagi sekolah-sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum 2013 sejak tahun pelajaran 2013/2014, diharapkan tetap menerapkan Kurikulum 2013. Sekolah-sekolah yang telah menerapkan Kurikulum 2013 selama 3 semester ini dijadikan sebagai sekolah pengembangan dan percontohan implementasi Kurikulum 2013. 

Mendikbud menginstruksikan sekolah-sekolah itu agar‎ kembali menggunakan Kurikulum 2006 mulai semester genap tahun pelajaran 2014/2015. Anies menegaskan bahwa berbagai konsep di Kurikulum 2013 sebenarnya telah diakomodasi dalam Kurikulum 2006.

Anies juga mengatakan malam ini juga surat edaran tentang penghentian Kurikulum 2013 kepada seluruh kepala sekolah di Indonesia akan disiapkan. Selanjutnya surat edaran tersebut segera dikirimkan ke sekolah-sekolah.

Kurikulum 2013 yang diterapkan serentak di semua sekolah mulai awal tahun pelajaran 2014/2015 ini menuai banyak penolakan. Persiapan Kurikulum 2013 yang dinilai amburadul telah menyebabkan proses belajar-mengajar tidak maksimal. Penerapan kurikulum baru yang dipaksakan telah merugikan peserta didik.

Sumber: http://www.sekolahdasar.net

Selasa, 18 November 2014

Kurikulum 2013 Hanya Akan Disempurnakan



Mendikbud: Kurikulum Tidak Perlu Diganti, Tetapi Disempurnakan

Jakarta, Kemendikbud --- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, mengunjungi Sekolah Menengah Atas Negeri 87 Rempoa, Jakarta Selatan, Rabu (12/11/2014). Kunjungan tersebut dimaksudkan untuk mendengarkan aspirasi pendidik dan peserta didik, sebagai masukan untuk menyempurnakan Kurikulum 2013. Pendidik dan peserta didik bukanlah penginisiasi kurikulum, tetapi sebagai pengguna kurikulum, oleh sebab itu perlu didengarkan aspirasinya.

Hal tersebut disampaikan Mendikbud saat selesai mendengarkan aspirasi para peserta didik di dalam kelas. “Saya juga tidak ingin ada tanggapan ganti menteri ganti kurikulum. Oleh sebab itu kurikulum yang sudah ada tidak perlu diganti, tetapi dilakukan pengkajian untuk disempurnakan,” ujar Mendikbud.

Mendikbud mengatakan selama beberapa waktu ini ia ingin melihat dan memantau terlebih dahulu pelaksanaan Kurikulum 2013 di lapangan. Hasil pantauan tersebut dapat digunakan sebagai bahan kajian konsep yang lebih tepat untuk diterapkan dalam menyempurnakan kurikulum yang sudah berjalan. Ia pun akan membuat tim independen untuk melakukan pengkajian Kurikulum 2013.

“Kita harus membuat kebijakan yang tidak merugikan anak-anak. Termasuk ketika membuat kurikulum. Seperti kunjungan hari ini anak-anak dapat menyampaikan aspirasi mereka yang sangat luar biasa,” pungkasnya. (Seno Hartono/pengunggah: Erika Hutapea)

Senin, 17 November 2014

Mendikbud diskusikan Kurikulum 2013.


Jakarta, Kemendikbud --- Pemerintah bertekad akan terus memperbaiki kekurangan dalam implementasi Kurikulum 2013. Salah satu cara untuk melakukan perbaikan tersebut adalah dengan mendengarkan saran dan kritik dari para praktisi pendidikan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menggelar pertemuan dengan praktisi pendidikan dan perwakilan organisasi profesi guru untuk mendengarkan saran dan kritik mereka tentang Kurikulum 2013. Pertemuan tersebut berlangsung di Gedung Ki Hajar Dewantara, Kemendikbud, Jakarta, (17/11/2014).

Beberapa hal yang disoroti para praktisi pendidikan antara lain mengenai kompetensi dasar (KD) dan indikator yang terdapat di dalam Buku Guru. Selain itu ada juga pembahasan mengenai pelatihan guru dan distribusi buku.

Mendikbud Anies mengatakan semua kekurangan dalam implementasi Kurikulum 2013 bisa diperbaiki seiring berjalannya waktu. “It’s a matter of time. Terima kasih atas rekomendasinya,” ucapnya.

Ia juga menekankan bahwa semua perbaikan akan dilakukan untuk kepentingan anak-anak dan pendidikan di Indonesia. “Kita meneruskan niat baik, sehingga benar-benar menjadi sebuah kurikulum yang kelak kita syukuri, sehingga anak-anak juga bersyukur,” tuturnya.

Dalam pertemuan tersebut Mendikbud didampingi Sekretaris Jenderal Kemendikbud Ainun Na’im. Selain itu hadir juga mantan Wamendikbud Bidang Pendidikan Musliar Kasim, Ketua Tim Inti Kurikulum 2013 Hamid Hassan, Dirjen Pendidikan Dasar Hamid Muhammad, Kepala Balitbang Furqon, dan Kepala BPSDMPK-PMP Syawal Gultom. (Desliana Maulipaksi/sumber: portal kemdikbud/pengunggah: Erika Hutapea)